Dampak Covid-19 Terhadap Inflasi dan Kurs Rupiah
Diambil kasus dalam tulisan ini adalah dampak covid-19 terhadap inflasi dan kurs rupiah dan nantinya berdampak pada harga saham. Dalam kasus ini penulis mengambilnya kasus pada perusahaan sektor pariwisata. Penulis mencoba menganalisis dibulan-bulan adanya pandemic Covid-19 yaitu dibulan desember sampai dengan maret. Dapat kita akses di website bank Indonesia (https://www.bi.go.id) dan www.investing.com. Nilai Rupiah mengalami depresiasi terhadap Dollar. Pada halaman tersebut dapat kita lihat bahwa rupiah mengalami titik terlemah terhadap Dollar yaitu pada bulan Maret Rp 16.417/Dollar Amerika. Sedangkan untuk titik terkuat rupiah kita terhadap Dollar berada dibulan Januari yaitu Rp 13.730/Dollar. Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika merupakan efek yang disebabkan dari adanya pandemi virus corona (Covid-19). Pandemi virus corona (Covid-19) membuat ekonomi dan keuangan global saat ini mengalami krisis yang akhirnya akan berimbas pada makroekonomi Indonesia.
Selanjutnya jika dibahas terkait dengan economic exposure yang juga terkena dampak dari Covid-19 ini . Wabah virus Corona (COVID-19) yang saat ini melanda dunia menimbulkan sejumlah kekhawatiran pasar. Jika berlanjut dalam jangka panjang akan berdampak negatif pada perekonomian Indonesia. Meskipun sektor pariwisata memiliki kontribusi yang relatif rendah terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) dan Indonesia juga tidak terlalu terhubung pada rantai pasok global (global value chain), pandemik ini bisa menempatkan Indonesia dalam posisi yang meresahkan, terutama terkait sektor perdagangan ekspor dan kegiatan impor.
Indonesia sendiri saat ini tidak dapat menghindari penurunan jumlah ekspor beberapa komoditas seperti lignit (HS-2702) dan bijih/konsentrat aluminium (HS-2606), karena permintaan negara-negara lain masih jauh lebih rendah dibandingkan permintaan China. Meninjau dampak COVID-19 terhadap impor Indonesia, hampir setengah komoditas impor yang berasal dari negeri Panda merupakan mesin dan perlengkapan elektrik (HS-85), antara lain telepon genggam dan barang modal seperti mesin (HS-84). Namun, impor makanan dalam bentuk sayuran (HS-07) seperti bawang merah, bawang putih, daun bawang (HS-0703) serta buah-buahan (HS-08) yaitu apel dan pir (HS-080) dengan nilai total impor masing-masing US$527 juta dan US$ 741 juta pada 2018. Eksposur makanan berprotein dalam bentuk hewan hidup (HS-01), daging (HS-02) dan produk susu (HS-04) masih tergolong sangat rendah karena sumber negara impor utama Indonesia untuk komoditas tersebut adalah Australia, AS, India dan Selandia Baru.
Selain ekspor, terkait dengan barang impor Indonesia dengan negara lain. Walaupun saat ini impor barang modal dan mesin yang lebih lambat memberi pertanda baik untuk defisit transaksi berjalan, kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa menurunnya impor makanan dalam bentuk sayuran dan buah-buahan akan memberikan tekanan inflasi ekonomi dalam negeri. Dengan melambatnya pertumbuhan ekspor komoditas utama, Indonesia akan membutuhkan waktu untuk melakukan diversifikasi ke negara tujuan ekspor lainnya. Wabah COVID-19 diperkirakan teratasi dalam enam bulan atau lebih cepat dengan dampak pertumbuhan PDB berkurang sebesar 0,1%-0,2% pada 2020 (proyeksi dasar pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,2%). Risiko melambatnya pertumbuhan ekspor utama Indonesia bisa berakibat pada menurunnya tingkat pendapatan masyarakat dan kepercayaan konsumen, sehingga konsumsi menjadi tertunda.
Faktor yang dapat memitigasi risiko tersebut adalah kebijakan fiskal ekspansif tahun ini dan kebijakan moneter yang tetap akomodatif. Hal ini sejalan dengan pernyataan Kementerian Keuangan tentang kebijakan percepatan pengeluaran surat utang di awal atau front loading untuk mempercepat distribusi anggaran, terutama ke daerah demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Selanjutnya jika dibahas terkait dengan economic exposure yang juga terkena dampak dari Covid-19 ini . Wabah virus Corona (COVID-19) yang saat ini melanda dunia menimbulkan sejumlah kekhawatiran pasar. Jika berlanjut dalam jangka panjang akan berdampak negatif pada perekonomian Indonesia. Meskipun sektor pariwisata memiliki kontribusi yang relatif rendah terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) dan Indonesia juga tidak terlalu terhubung pada rantai pasok global (global value chain), pandemik ini bisa menempatkan Indonesia dalam posisi yang meresahkan, terutama terkait sektor perdagangan ekspor dan kegiatan impor.
Indonesia sendiri saat ini tidak dapat menghindari penurunan jumlah ekspor beberapa komoditas seperti lignit (HS-2702) dan bijih/konsentrat aluminium (HS-2606), karena permintaan negara-negara lain masih jauh lebih rendah dibandingkan permintaan China. Meninjau dampak COVID-19 terhadap impor Indonesia, hampir setengah komoditas impor yang berasal dari negeri Panda merupakan mesin dan perlengkapan elektrik (HS-85), antara lain telepon genggam dan barang modal seperti mesin (HS-84). Namun, impor makanan dalam bentuk sayuran (HS-07) seperti bawang merah, bawang putih, daun bawang (HS-0703) serta buah-buahan (HS-08) yaitu apel dan pir (HS-080) dengan nilai total impor masing-masing US$527 juta dan US$ 741 juta pada 2018. Eksposur makanan berprotein dalam bentuk hewan hidup (HS-01), daging (HS-02) dan produk susu (HS-04) masih tergolong sangat rendah karena sumber negara impor utama Indonesia untuk komoditas tersebut adalah Australia, AS, India dan Selandia Baru.
Selain ekspor, terkait dengan barang impor Indonesia dengan negara lain. Walaupun saat ini impor barang modal dan mesin yang lebih lambat memberi pertanda baik untuk defisit transaksi berjalan, kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa menurunnya impor makanan dalam bentuk sayuran dan buah-buahan akan memberikan tekanan inflasi ekonomi dalam negeri. Dengan melambatnya pertumbuhan ekspor komoditas utama, Indonesia akan membutuhkan waktu untuk melakukan diversifikasi ke negara tujuan ekspor lainnya. Wabah COVID-19 diperkirakan teratasi dalam enam bulan atau lebih cepat dengan dampak pertumbuhan PDB berkurang sebesar 0,1%-0,2% pada 2020 (proyeksi dasar pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,2%). Risiko melambatnya pertumbuhan ekspor utama Indonesia bisa berakibat pada menurunnya tingkat pendapatan masyarakat dan kepercayaan konsumen, sehingga konsumsi menjadi tertunda.
Faktor yang dapat memitigasi risiko tersebut adalah kebijakan fiskal ekspansif tahun ini dan kebijakan moneter yang tetap akomodatif. Hal ini sejalan dengan pernyataan Kementerian Keuangan tentang kebijakan percepatan pengeluaran surat utang di awal atau front loading untuk mempercepat distribusi anggaran, terutama ke daerah demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Komentar
Posting Komentar